Home / Bone / News

Kasus Dugaan Penganiayaan Ketua DPRD Bone Masih Bergulir, Versi Korban dan Saksi Berbeda

- Jurnalis

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Korban (kiri), Saksi (kanan).

Korban (kiri), Saksi (kanan).

BONE.BONEKU.COM – Kasus dugaan penganiayaan yang menyeret Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong, terhadap salah seorang staf Sekretariat DPRD Bone, Yuli Novita Sari (29), masih menjadi sorotan publik. Peristiwa yang dilaporkan ke Polres Bone itu menyisakan polemik setelah muncul perbedaan keterangan antara korban dan saksi yang berada di lokasi kejadian.

Yuli Novita Sari mengaku mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan hingga dugaan kekerasan fisik saat dipanggil menghadap Ketua DPRD Bone di kantin kantor DPRD.

Menurut pengakuannya, peristiwa tersebut bermula ketika dirinya menjalankan tugas menyiapkan hidangan untuk tamu di Kantor DPRD Bone. Setelah tamu pertama selesai, Yuli hendak memastikan ketersediaan kue untuk tamu berikutnya.

Namun, ia mendapat informasi dari salah seorang staf bahwa kue tersebut telah dibawa ke kantin atas permintaan Ketua DPRD Bone.

“Awalnya saya hanya bertugas untuk menyiapkan hidangan karena mau ada tamu. Tamu pertama sudah pulang, lalu saya ke ruang tamu untuk mempertanyakan kue karena masih ada satu tamu lagi. Sementara ada staf mengatakan bahwa kue itu sudah dibawa ke kantin atas permintaan Ketua DPRD,” ujar Yuli usai membuat laporan di Mapolres Bone, Rabu malam (22/7/2026).

Baca Juga:  Deradikalisasi Humanis ala Polres Bone di Hari Bhayangkara

Tak lama setelah itu, Yuli mengaku dipanggil untuk menghadap ke kantin. Setibanya di lokasi, ia mengaku belum sempat memberikan penjelasan, namun langsung mendapat perlakuan yang menurutnya tidak pantas.

Korban mengaku wajahnya dilumuri kue, kepalanya disiram menggunakan air mineral, kemudian botol air mineral dilempar ke arahnya.

“Kalaupun saya ada salah, mungkin bisa disampaikan dulu apa salah saya. Tapi ini tiba-tiba saya diperlakukan begini. Parahnya lagi, kejadian ini disaksikan sejumlah staf yang ada di lokasi dan tidak seorang pun yang melerai. Saya juga tidak tahu apa yang disampaikan teman sekantor saya itu ke Ketua DPRD sehingga membuat beliau begitu marah,” katanya.

Merasa keberatan atas tindakan tersebut, Yuli akhirnya melaporkan dugaan penganiayaan itu ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Bone. Saat membuat laporan, ia didampingi keluarga serta Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bone.

Baca Juga:  Kepsek SMAN 1 Watampone Akui Ada Lauk MBG Diduga Basi

Sementara itu, salah seorang staf Sekretariat DPRD Bone bernama Anti, yang disebut sebagai orang yang membawa kue ke kantin, memberikan penjelasan berbeda terkait awal mula kejadian.

Menurut Anti, dirinya memang diminta membawa kue ke kantin atas permintaan Ketua DPRD. Namun setelah itu, Yuli datang mempertanyakan keberadaan kue tersebut dan mengeluarkan kalimat yang dinilai tidak pantas.

“Kejadian sebenarnya setelah dia datang dan bertanya, ‘Mana kue yang tadi?’ Saya jawab saya bawa ke kantin karena diminta oleh Ibu Ketua DPRD. Kemudian dia komplain dan mengatakan, ‘Oh kalau begitu jika tamu selanjutnya datang suruh saja ke kantin karena sudah tidak ada anggaran untuk kue’,” ujar Anti.

Anti mengatakan ucapan tersebut kemudian disampaikan kepada Ketua DPRD Bone sehingga memicu emosi pimpinan DPRD.

Ia juga membantah keterangan korban yang menyebut tidak ada seorang pun yang berusaha melerai.

Baca Juga:  Dipicu Dendam Lama, Petani di Bone Tewas Ditikam Tetangga

“Apa yang disampaikan korban ke publik tidak semuanya benar. Kalau dia mengatakan tidak ada satu pun yang melerai, itu tidak benar. Pak Sekwan ada di lokasi dan berusaha menyuruh korban pergi, namun tangannya ditepis korban sambil berteriak-teriak,” tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Ketua DPRD Bone belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian menurut versinya.

Sementara itu, Polres Bone masih melakukan penyelidikan dan pendalaman atas laporan dugaan penganiayaan tersebut dengan mengumpulkan keterangan dari para pihak yang terkait.

“Benar laporannya sudah masuk secara resmi tadi malam, dan saat ini penyidik masih melakukan pendalaman, selanjutnya akan memanggil kembali pelapor, saksi-saksi dan terlapor untuk dimintai keterangan lebih lanjut,”Ujar Iptu Rayendra Muchtar, Kamis siang, 23/7/2026.

Kasus ini pun terus menjadi perhatian masyarakat karena melibatkan pimpinan lembaga legislatif di Kabupaten Bone. Seluruh pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga proses hukum selesai dan terdapat kepastian hukum dari aparat penegak hukum. (*)

Berita Terkait

Fatmawati Rusdi Salurkan Bantuan UPPKA dan Ajak Masyarakat Tanam Cabai untuk Kendalikan Inflasi
Persoalan Kue Berujung Laporan Polisi, HMI Bone Minta Kode Etik DPRD Ditegakkan
Gubernur Andi Sudirman Laporkan Progres Evakuasi KM Nurul Salsa kepada Kepala Basarnas RI
Diduga Dipicu Persoalan Kue, Ketua DPRD Bone Dilaporkan ke Polisi
Jalan Baru Lapeccang–Lonrong Diresmikan, Bupati Bone Janjikan Pembangunan Merata
KPPN Watampone Beri Penghargaan Satker Terbaik, Perkuat Sinergi Pengelolaan APBN
TPID Bone Gelar Operasi Pasar di Pasar Palakka, Harga Bahan Pokok Relatif Stabil, Ikan Masih Mahal
Pemkab Bone Gelar Nobar Final Piala Dunia 2026 di Lapangan Merdeka, Wabup Ajak Masyarakat Hadir

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:18 WITA

Kasus Dugaan Penganiayaan Ketua DPRD Bone Masih Bergulir, Versi Korban dan Saksi Berbeda

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:57 WITA

Fatmawati Rusdi Salurkan Bantuan UPPKA dan Ajak Masyarakat Tanam Cabai untuk Kendalikan Inflasi

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:54 WITA

Gubernur Andi Sudirman Laporkan Progres Evakuasi KM Nurul Salsa kepada Kepala Basarnas RI

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:48 WITA

Diduga Dipicu Persoalan Kue, Ketua DPRD Bone Dilaporkan ke Polisi

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:02 WITA

Jalan Baru Lapeccang–Lonrong Diresmikan, Bupati Bone Janjikan Pembangunan Merata

Berita Terbaru