BUAYA Catatan Pinggir: Bahtiar Parenrengi

- Jurnalis

Jumat, 10 Juli 2020 - 04:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONEKU.COM-Beberapa tahun silam, warga digegerkan dengan aksi buaya. Menerkam warga saat mandi di sungai, di Pakkasalo Dua BoccoE. 
Seketika itu pun kabarnya menyeruak. Orang-orang pada berdatangan untuk menyaksikan pencarian buaya yang dilakukan para penembak jitu. 
Sang raja air pun tumbang, saat beberapa peluru mengenai kepalanya. Buaya sepanjang empat meter lebih dievakuasi dan dikubur disalah satu kebun. 
Ribuan warga menyaksikan suasana yang cukup menegangkan. Karena sang “penguasa sungai” tak gampang ditaklukkan. 
Beragam cerita yang mengerikan bermunculan. Baik cerita sereemm, Cerita raja air, buaya air hingga buaya darat. Wah…
                ***
Buaya, lagu Rita Sugiarto mengalun merdu disalah satu radio swasta. Dandutan pagi beranjak siang itu telah menambah imunt bagi pendengarnya. 
Walau syairnya cukup mengerikan, namun pendengar dandutan tersebut terlihat enjoy menikmatinya. Hidangan kopi hitam ditambah kue bugis bisa membuatnya tersenyum. 
“buaya itu binatang melata
Terkenal karena kelicikannya
Dia pandai mengelabui mangsa
Diam-diam tetapi berbahaya
Dia selalu berpura-pura
Apabila ada maunya
Macam-macam tipu-dayanya
Begitulah sifat buaya
Buaya
Kini kita melihat
Banyak buaya naik ke darat
Awas hati-hatilah
Buaya darat lebih bahaya……”
Buaya, banyak lagu tercipta karenanya. Seperti Lagu buaya buntung, yang dinyanyikan oleh Inul Daratista. Serta lagu Lelaki buaya darat, oleh Ratu. 
Padahal mungkin banyak yang tidak tahu, sebenarnya buaya adalah hewan yang sangat setia. Konon, buaya jantan hanya kawin satu kali dan hanya memiliki pasangan satu dalam seumur hidupnya.
Buaya jantan tetap bertahan dan setia meskipun buaya betina yang menjadi pasangannya mati lebih dahulu.
                ***
Buaya. Sering menjadi plesetan. Plesetan yang menyindir hati. Tak heran ketika plesetan itu diumbar, seolah terjadi amukan buaya yang membahayakan. Dahsyat. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 
bu·a·ya adalah binatang berdarah dingin yang merangkak (reptilia) bertubuh besar dan berkulit keras, bernapas dengan paru-paru, hidup di air (sungai, laut).
Persepsi orang pun terbentuk ketika mendengar kata buaya. Apa lagi buaya darat. Buaya darat: (Kata kiasan)
Memiliki arti penjahat (pencuri, pencopet, dsb); pengertian lainnya adalah penggemar perempuan.
Padahal dalam tradisi budaya Betawi memiliki arti yang syahdu. Buaya dianggap simbol kesetiaan. Tak heran 
dalam tradisi budaya Betawi, buaya dijadikan sebagai lambang kesetiaan dan kelanggengan dalam sebuah rumah tangga. 
Roti buaya, kerap dijadikan sebagai hantaran, sajian, atau seserahan wajib dalam acara pernikahan tradisional. Makna dari roti buaya sebagai simbol atau lambang agar pasangan yang  menikah, akan menjadi pasangan rimantis, setia seumur hidupnya, sebagai simbolisasi janji sehidup semati.
Namun, mengapa buaya yang terkenal dengan ­kesetiaannya malah justru sering dikiaskan sebagai laki-laki nakal?Istilah ‘buaya darat’ kerap digunakan untuk men­deskripsikan seorang laki-laki yang mempunyai sifat tidak 
Setia. 
Kiasan lain juga kadang didengarkan, 
Air mata buaya (atau simpati buatan). Dalam literasi, kiasan ini dijelaskan sebagai emosi palsu pada seorang munafik yang pura-pura bersedih  dan mengeluarkan air mata palsu. Ekspresi ini berasal dari anekdot kuno bahwa buaya menangis untuk menarik perhatian mangsanya atau menangis untuk mangsa yang mereka terkam. 
Padahal sebenarnya, buaya meneteskan air mata untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Buaya tak bersedih, apalagi sedih usai menerkam mangsanya. Kalaulah manusia memiliki sifat itu, tentu sangat membahayakan. Terlihat selalu meneteskan air mata, namun hatinya tak tulus bahkan menerkam kita. Nauzubillah min zalik.(*)
Baca Juga:  Kunker Di Tanah Kelahiran, Mentan Paparkan Keberhasilan

Berita Terkait

Gubernur Sulsel Bawa Pengalaman Digitalisasi Keuangan ke Forum Nasional FEKDI x IFSE 2026
10 Ton Solar Subsidi Terhenti di Bone, Polisi Bongkar Dugaan Pengiriman ke Kolaka
Andi Sudirman Hadiri Perayaan Hari Nasional Arab Saudi, Bertemu Sejumlah Pejabat dan Dubes
Bertemu Dubes Swiss di Kapal Phinisi, Wagub Fatmawati Bahas Rumput Laut, Kopi, dan Kakao
Penggeledahan Gabungan Digelar di Lapas Watampone, 15 Kamar WBP Diperiksa
TP PKK Sulsel Dorong KISAK Jadi Gerakan Bersama, Tertib Administrasi Dimulai dari Keluarga
Gali Pondasi Rumah, Buruh Bangunan di Bone Temukan 3 Bahan Peledak Diduga Masih Aktif
Jalan Tanete-Tanaberu Bulukumba Mulai Mulus, Warga Rasakan Dampak Program MYP Sulsel

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 20:24 WITA

Gubernur Sulsel Bawa Pengalaman Digitalisasi Keuangan ke Forum Nasional FEKDI x IFSE 2026

Jumat, 25 September 2026 - 20:18 WITA

10 Ton Solar Subsidi Terhenti di Bone, Polisi Bongkar Dugaan Pengiriman ke Kolaka

Jumat, 25 September 2026 - 15:25 WITA

Andi Sudirman Hadiri Perayaan Hari Nasional Arab Saudi, Bertemu Sejumlah Pejabat dan Dubes

Kamis, 24 September 2026 - 10:50 WITA

Bertemu Dubes Swiss di Kapal Phinisi, Wagub Fatmawati Bahas Rumput Laut, Kopi, dan Kakao

Rabu, 23 September 2026 - 23:14 WITA

Penggeledahan Gabungan Digelar di Lapas Watampone, 15 Kamar WBP Diperiksa

Berita Terbaru