BONE.BONEKU.COM – Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Irfan (32), operator alat berat yang meninggal dunia akibat tertimbun longsoran tanah dan batu di lokasi tambang galian C di Desa Lampoko, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Jumat pagi (24/7/2026).
Di balik peristiwa tragis itu, tersimpan kisah pilu sebuah keluarga yang kini harus kehilangan sosok kepala rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga.
Irfan selama ini bekerja sebagai operator excavator untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya, Husni, serta dua anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Kepergiannya yang begitu mendadak meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Sang istri yang pagi itu masih sempat mengantar suaminya berangkat bekerja, hanya beberapa jam kemudian harus menerima kabar bahwa orang yang dicintainya telah meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.
Kerabat korban, Erik, mengatakan Irfan telah menggeluti profesi sebagai operator alat berat selama lebih dari satu dekade. Sebelum menjadi operator excavator, almarhum sempat bekerja sebagai sopir truk.
“Sudah lebih dari 10 tahun dia jadi operator excavator. Sebelumnya dia sempat membawa mobil truk, baru kemudian menjadi operator alat berat,” ujar Erik saat dihubungi, Jumat malam, 24/7/2026.
Menurut Erik, kondisi Husni hingga kini masih sangat terpukul dan belum mampu menerima kenyataan bahwa suaminya telah pergi untuk selama-lamanya.
“Istrinya bernama Husni. Mereka punya dua anak yang masih kecil, masih sekolah dasar. Kondisi istrinya sangat terpukul karena pagi tadi masih melihat suaminya berangkat kerja. Tidak lama kemudian malah mendapat kabar duka,” katanya.
Di tengah kesedihan keluarga, muncul cerita yang membuat kerabat semakin tak kuasa menahan haru.
Menurut Erik, beberapa hari terakhir Irfan beberapa kali mengucapkan kalimat yang belakangan dianggap sebagai isyarat kepergiannya.
Kala itu, tidak ada seorang pun yang mengira ucapan tersebut akan menjadi kenyataan.
“Menurut cerita istrinya, beberapa hari ini dia sering bilang kalau dia akan pergi jauh dan tidak akan kembali. Tapi tidak ada yang menyangka kalau maksudnya seperti ini,” ungkap Erik.
Malam sebelum kecelakaan, Irfan juga menunjukkan sikap yang berbeda dari biasanya.
Sepulang melayat salah seorang tetangga yang meninggal dunia, ia masih sempat berkumpul dan bermain domino bersama warga sekitar.
Namun, menurut keluarga, malam itu Irfan lebih banyak diam.
“Tadi malam setelah pulang melayat dia sempat main domino dengan tetangga. Tapi dia tidak seperti biasanya. Biasanya dia humoris, suka bercanda, menghidupkan suasana. Malam itu dia justru lebih banyak diam,” tutur Erik.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Irfan terjadi saat ia mengoperasikan excavator di lokasi tambang galian C di Desa Lampoko, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone.
Material tanah bercampur batu tiba-tiba longsor dan menimbun korban. Meski para pekerja sempat berusaha melakukan penyelamatan, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Kini, suara mesin excavator yang selama bertahun-tahun menjadi sumber nafkah keluarga telah berhenti untuk selamanya.
Yang tersisa hanyalah kenangan seorang ayah yang setiap hari berjuang mencari nafkah demi masa depan istri dan dua anaknya.
“Kepada semua kerabat dan rekan-rekan Almarhum, kami sekeluarga memohon doanya dan memafkan semua salah dan hilaf yang pernah dibuat almarhum semasa hidupnya, semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisinya,Amin” Kuncinya. (*)










