Tradisi ‘Massari’ Tetap Lestari, Tuak Manis dan Gogos Desa Lattekko Jadi Magnet Wisata Kuliner Bone

- Jurnalis

Sabtu, 4 Juli 2026 - 17:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONE.BONEKU.COM – Tradisi massari, atau menyadap nira dari pohon lontar untuk menghasilkan tuak manis, masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Lattekko, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone. Aktivitas yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian warga, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata kuliner bagi para pengguna Jalan Trans Sulawesi poros Bone–Wajo.

Setiap pagi dan sore, para penyadap lontar memanjat pohon-pohon yang menjulang tinggi untuk mengambil nira segar yang ditampung menggunakan wadah khusus. Aktivitas tersebut telah menjadi rutinitas sebagian besar warga Desa Lattekko selama puluhan tahun.

Salah seorang penyadap lontar, Deng Mallogi, mengaku telah menjalani pekerjaan tersebut selama sekitar dua dekade. Menurutnya, tradisi massari telah diwariskan dari generasi ke generasi di keluarganya.

“Saya sudah kurang lebih 20 tahun melakukan massari. Dari zaman kakek saya sampai sekarang anak dan cucu juga masih melakukan massari. Ini sudah menjadi salah satu rutinitas sebagian besar masyarakat di sini,” ungkap Deng Mallogi.

Baca Juga:  Sertijab Kasat Lantas Polres Bone : Tongkat Estafet Kepemimpinan Berlanjut

Dalam sehari, penyadapan dilakukan dua kali, yakni pada pagi dan sore hari. Dari satu pohon lontar, seorang penyadap dapat memperoleh sekitar dua hingga lima liter nira, tergantung kondisi pohon serta cuaca.

Keistimewaan tuak manis khas Desa Lattekko terletak pada kesegarannya. Minuman ini dikonsumsi dalam kondisi masih alami, belum melalui proses fermentasi, sehingga menghasilkan cita rasa manis yang khas dan menyegarkan.

Warga lainnya, Arsad, menjelaskan bahwa tidak semua pohon lontar dapat menghasilkan nira. Menurutnya, hanya pohon lontar jantan yang dapat disadap, sedangkan pohon lontar betina hanya menghasilkan buah.

Ia juga mengatakan bahwa faktor cuaca sangat memengaruhi kualitas nira yang dihasilkan.

“Kalau musim hujan, rasa tuak biasanya tidak semanis saat musim kemarau. Selain itu, kami percaya semakin tinggi pohon lontar yang dipanjat, biasanya nira yang dihasilkan juga semakin manis,” jelas Arsad.

Setelah dipanen, nira segar langsung dikemas ke dalam botol air mineral dan dijual kepada masyarakat maupun para pengendara yang melintas di jalur Trans Sulawesi. Dengan harga sekitar Rp8.000 per botol, tuak manis menjadi pilihan banyak pelintas untuk melepas dahaga setelah menempuh perjalanan jauh.

Baca Juga:  Piala Gubernur Sulsel 2026 Resmi Bergulir di Bone, Bupati Andi Asman Bidik Bibit Pesepak Bola Nasional

Namun, menikmati tuak manis rasanya belum lengkap tanpa mencicipi gogos, kuliner khas Bugis berupa beras ketan yang dibakar dengan balutan daun pisang. Sajian tersebut umumnya dipadukan dengan telur itik rebus, menciptakan perpaduan rasa gurih dan manis yang menjadi favorit para pengunjung.

Banyak pengendara sengaja berhenti di Desa Lattekko untuk menikmati kuliner khas tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Bone maupun Wajo.

Salah seorang penjual gogos, Sumarni, mengatakan bahwa dirinya telah berjualan selama puluhan tahun. Dalam sehari, jumlah gogos yang dibuat disesuaikan dengan permintaan pasar.

“Kalau satu liter beras biasanya bisa menjadi sekitar 25 ikat gogos. Kadang kami juga menerima pesanan gogos putih dalam jumlah banyak. Memang tidak setiap hari ramai, tetapi hasil jualan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Sumarni.

Baca Juga:  Proyek Cetak Sawah Diduga Bermasalah, Ketua HIPMI Bone Disebut

Menurut Sumarni, sejak Pemerintah Kabupaten Bone meluncurkan Desa Lattekko sebagai salah satu destinasi wisata kuliner, jumlah pembeli mulai mengalami peningkatan. Meski demikian, para pelaku usaha masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam hal pengemasan produk dan strategi pemasaran.

Mereka berharap pemerintah dapat memberikan pelatihan mengenai pengemasan, pemasaran digital, hingga pengembangan usaha agar produk kuliner khas Desa Lattekko semakin dikenal luas dan mampu menjangkau pasar yang lebih besar.

Dengan tetap lestarinya tradisi massari, Desa Lattekko tidak hanya berhasil mempertahankan warisan budaya leluhur, tetapi juga mengembangkan potensi ekonomi masyarakat melalui sektor wisata kuliner. Perpaduan kesegaran tuak manis, kelezatan gogos, serta kearifan lokal yang terus dijaga menjadikan desa ini sebagai salah satu destinasi kuliner khas Bugis yang layak dikunjungi di Kabupaten Bone. (*)

Penulis : Achyl

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Warisan Leluhur Kembali Dihidupkan, Bupati Bone Ikuti Cemme Passili’ Bersama Warga
Wagub Fatmawati Ingatkan Keluarga terhadap Risiko Judi Online dan Pinjaman Online
Kepedulian di Tengah Kesibukan Masa Giling, PG Camming Sumbangkan 86 Kantong Darah
Cuma Latihan Dua Pekan, PMR WIRA SMAN 5 Bone Tampil Gemilang di VORCEA 2026
Gubernur Sulsel Serahkan BK Rp17 Miliar untuk Pemkab Bulukumba, Termasuk Masjid Terapung Pantai Merpati
Gubernur Andi Sudirman Tinjau Perbaikan Jalan Ujung Lamuru–Palattae, Warga: Terima Kasih Pak Gubernur
PP Bonepal Genap 37 Tahun, Rawat Tradisi Petualangan dan Persaudaraan Lintas Generasi
Pastikan MBG Berjalan Kondusif, Polres Bone Turunkan Personel ke Sejumlah SPPG

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 23:38 WITA

Warisan Leluhur Kembali Dihidupkan, Bupati Bone Ikuti Cemme Passili’ Bersama Warga

Minggu, 27 September 2026 - 00:23 WITA

Wagub Fatmawati Ingatkan Keluarga terhadap Risiko Judi Online dan Pinjaman Online

Rabu, 16 September 2026 - 15:14 WITA

Kepedulian di Tengah Kesibukan Masa Giling, PG Camming Sumbangkan 86 Kantong Darah

Senin, 14 September 2026 - 11:27 WITA

Cuma Latihan Dua Pekan, PMR WIRA SMAN 5 Bone Tampil Gemilang di VORCEA 2026

Minggu, 13 September 2026 - 13:34 WITA

Gubernur Sulsel Serahkan BK Rp17 Miliar untuk Pemkab Bulukumba, Termasuk Masjid Terapung Pantai Merpati

Berita Terbaru