BONE.BONEKU.COM — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih. Sejumlah warga bahkan harus menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer untuk mendapatkan air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dirasakan warga Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre. Debit air sumur yang selama ini menjadi salah satu sumber kebutuhan rumah tangga terus menurun. Bahkan, sebagian sumur warga kini mulai mengering.
Situasi itu membuat warga harus mencari sumber air yang masih tersedia di lokasi lain. Air bersih kemudian diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka dengan membawa tandon berukuran sedang hingga jumbo.
Sekali perjalanan, warga berusaha mengisi tandon sebanyak mungkin agar persediaan air di rumah dapat bertahan beberapa hari.
Aktivitas tersebut dilakukan secara bersama-sama. Warga saling membantu mengangkat, mengisi, hingga menaikkan tandon ke atas kendaraan sebelum membawa air kembali ke rumah masing-masing.
Salah seorang warga Desa Mappesangka, Farabi, mengatakan sumur di rumahnya kini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air keluarga akibat kemarau yang berkepanjangan.
“Sejak sumur kami mengalami penurunan debit air, bahkan sampai mengalami kekeringan, kami terpaksa bersama keluarga bahu-membahu mengambil air dari sumur yang jaraknya lumayan jauh dari desa ini,” kata Farabi, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, perjalanan jauh untuk mendapatkan air bersih menjadi pilihan yang harus dilakukan warga. Pasalnya, kebutuhan air untuk memasak, mencuci, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya tetap harus dipenuhi meski sumber air di sekitar permukiman semakin terbatas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kemarau panjang tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga juga mulai menjadi persoalan bagi masyarakat di sejumlah wilayah Bone.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut, terutama jika musim kemarau masih berlangsung dan sumber air di sekitar permukiman terus menyusut.
Bagi warga Mappesangka, mendapatkan air bersih kini bukan lagi perkara membuka keran atau menimba dari sumur di halaman rumah. Mereka harus menempuh perjalanan jauh, mengisi tandon, lalu membawa pulang air demi memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi. (*)










