Nenek Gendong Jenazah Cucu Sambil Menangis, Penanganan Medis RSUD Tenriawaru Dipertanyakan

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONE, BONEKU.COM – Duka mendalam menyelimuti keluarga bayi laki-laki yang meninggal dalam kandungan saat menjalani perawatan di RSUD Tenriawaru, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di tengah kehilangan tersebut, keluarga mempertanyakan proses penanganan medis yang dinilai lambat merespons ketika kondisi ibu bayi memburuk.

Nenek bayi, Rahmawati, meminta pihak rumah sakit dan dokter yang menangani menantunya memberikan penjelasan terbuka mengenai kronologi perawatan hingga bayi dinyatakan meninggal dalam kandungan.

Keluhan itu disampaikan Rahmawati dalam konferensi pers di kediamannya, Jalan Hos Cokroaminoto, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Kamis (15/10/2026). Ia didampingi ayah bayi, Andi Muhammad Aldiansyah.

Dengan penuh kesedihan, Rahmawati menyampaikan pengalamannya sambil menggendong jenazah cucunya. Ia beberapa kali tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kejadian yang dialami keluarganya.

Menurut penuturan Rahmawati, menantunya telah beberapa kali menjalani perawatan di RSUD Tenriawaru setelah mengalami kontraksi dan keluhan kesehatan lainnya.

Pada perawatan pertama, pasien menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan. Keluarga kemudian menerima informasi bahwa pasien memerlukan suntikan untuk membantu pematangan paru-paru bayi.

Setelah dirawat sekitar dua hingga tiga hari, pasien diperbolehkan pulang. Namun, beberapa waktu kemudian, ia kembali masuk rumah sakit akibat sakit perut yang disertai muntah dan diare.

Baca Juga:  Diduga Cemburu Buta, Istri Sah Tikam Seorang IRT Menggunakan Pisau

Situasi kembali mengkhawatirkan ketika pasien mengalami kram perut, disertai keluarnya darah dan lendir dari jalan lahir.

Rahmawati mengaku telah meminta perawat menyampaikan kondisi tersebut kepada dokter yang menangani. Namun, menurut pengakuannya, dokter belum memberikan respons ketika keluarga berupaya menghubunginya.

Keluarga juga menyebut pasien sempat diberikan obat pereda nyeri. Meski demikian, rasa sakit yang dialami disebut tidak kunjung mereda sepanjang malam.

Melihat kondisi menantunya yang terus kesakitan, Rahmawati mengaku semakin khawatir dan meminta agar pasien mendapat perhatian medis lebih intensif.

Selain mempersoalkan respons tenaga medis, keluarga juga mempertanyakan pertimbangan medis terkait belum dilakukannya tindakan operasi ketika kondisi pasien disebut semakin memburuk.

Rahmawati menuturkan, keluarga mendapat penjelasan bahwa berat badan bayi saat itu belum mencapai dua kilogram. Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu hal yang ingin mereka klarifikasi kepada pihak rumah sakit.

Pada pagi harinya, Rahmawati mengaku kembali menghubungi dokter melalui pesan WhatsApp untuk menanyakan kondisi menantunya sekaligus meminta petunjuk medis.

Baca Juga:  Pria 50 Tahun Ditikam Badik di Amali, Pelaku Diamankan Tim Gabungan Polres Bone

Berdasarkan keterangan keluarga, air ketuban pasien kemudian pecah dan detak jantung bayi mengalami penurunan sebelum pasien dibawa ke ruang operasi.

Andi Muhammad Aldiansyah menuturkan, detak jantung bayi sempat disebut meningkat hingga 160 kali per menit, sebelum turun menjadi sekitar 80 kali per menit.

Pasien selanjutnya dibawa ke ruang operasi. Namun, bayi laki-laki tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dalam kandungan.

Rangkaian peristiwa tersebut kini menjadi dasar pertanyaan keluarga mengenai respons tenaga medis, pemantauan kondisi ibu dan janin, serta pertimbangan yang diambil selama proses perawatan.

Meski demikian, kronologi berdasarkan penuturan keluarga tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa telah terjadi kelalaian medis. Diperlukan penjelasan dari pihak rumah sakit dan dokter yang menangani, termasuk penelaahan rekam medis untuk mengetahui kondisi klinis pasien serta dasar pengambilan keputusan medis.

Rahmawati menegaskan, kekecewaannya bukan semata-mata karena cucunya meninggal dunia. Ia memahami kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, tetapi mempertanyakan proses penanganan yang menurutnya lambat ketika pasien membutuhkan perhatian khusus.

“Kalau ajal namanya semua pasti meninggal. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Tapi saya kecewa karena ada proses yang saya anggap lambat,” kata Rahmawati.

Baca Juga:  Kunker ke Bone, Kapolri Dikukuhkan Gelar Adat 'La Pateddungi Daeng Pasempo' Ini Maknanya

Ia berharap pihak rumah sakit dan dokter yang menangani memberikan penjelasan secara terbuka, terutama mengenai alasan medis di balik penanganan yang diberikan ketika kondisi menantunya disebut semakin memburuk.

“Saya tunggu klarifikasi dari pihak rumah sakit dan pihak dokter yang menangani. Saya mau tahu apa alasannya, alasan medisnya apa,” ujarnya.

Terkait kemungkinan menempuh jalur hukum, Rahmawati mengatakan keluarga belum mengambil keputusan. Mereka masih mempertimbangkan langkah selanjutnya setelah mendapatkan penjelasan dari pihak-pihak terkait.

“Untuk langkah hukum, nanti saya pertimbangkan kembali setelah mengetahui semua penjelasan dari pihak-pihak terkait,” katanya.

Sementara itu, pihak RSUD Tenriawaru telah dikonfirmasi terkait peristiwa tersebut. Namun, hingga berita ini disusun, belum ada respons resmi yang diterima redaksi.

Belum terdapat penjelasan dari pihak rumah sakit mengenai kronologi penanganan pasien, pertimbangan tindakan medis, perkembangan kondisi ibu dan janin, maupun penyebab bayi meninggal dalam kandungan.

Klarifikasi rumah sakit dan dokter yang menangani menjadi penting untuk memberikan gambaran menyeluruh atas peristiwa ini sekaligus menjawab pertanyaan keluarga. (*)

Berita Terkait

Harumkan Nama MAN 3 Bone, Amelia Raih Juara III di BerAmal Fest 2026
MTsN 3 Bone Mulai Langkah Nyata Menuju Madrasah Hijau, Gandeng DLH Sulsel dan Bone
Diburu hingga ke Pinrang, Terduga Spesialis Pencuri Rumah Kosong di Bone Ditangkap, Kerugian Korban Rp369 Juta
Malam-Malam Polisi Gerebek Lokasi Sabung Ayam di Bone, Sejumlah Arena Dimusnahkan
Terpisah Ribuan Kilometer Tak Jadi Penghalang, Pria Bone dan Perempuan Swedia Berakhir di Pelaminan.
Kabut Asap Selimuti Pegunungan Bone, Bertahan Hampir Sepekan, Matahari Tampak Merah
Diduga Dipicu Keributan di Penginapan, Pria di Bone Dikejar hingga Depan Kantor DPRD
Ribuan Peserta Padati Jalan Sehat Anti Mager di Sorowako, Gubernur dan Wagub Sulsel Turut Hadir

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:48 WITA

Nenek Gendong Jenazah Cucu Sambil Menangis, Penanganan Medis RSUD Tenriawaru Dipertanyakan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:31 WITA

MTsN 3 Bone Mulai Langkah Nyata Menuju Madrasah Hijau, Gandeng DLH Sulsel dan Bone

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:13 WITA

Diburu hingga ke Pinrang, Terduga Spesialis Pencuri Rumah Kosong di Bone Ditangkap, Kerugian Korban Rp369 Juta

Rabu, 14 Oktober 2026 - 00:12 WITA

Malam-Malam Polisi Gerebek Lokasi Sabung Ayam di Bone, Sejumlah Arena Dimusnahkan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:53 WITA

Terpisah Ribuan Kilometer Tak Jadi Penghalang, Pria Bone dan Perempuan Swedia Berakhir di Pelaminan.

Berita Terbaru