Opini Andi Ilham Paulangi (Direktur Istitut Literasi Pedesaan) Alumni Fakultas Sastra Unhas…

- Jurnalis

Kamis, 18 Januari 2018 - 14:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


BONEKU.COM-FILM SILARIANG DAN NARASI BUGIS-MAKASSAR

Film Silariang Cinta Yang (Tak) Direstui, adalah film tentang kisah cinta, tetapi sangat kental dengan pesan-pesan budaya. 
Dua model digunakan menyampaikan pesan budaya.
Pertama melalui penandaan oposisi biner, kedua melalui penandaan mitos.
Dua cara ini memudahkan penonton menangkap pesan-pesan dalam film. 
Konsep opisisi biner diperkenalkan oleh Claude Levi-Strauss (antropolog-strukturlis), dengan membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. 
Segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B. Dalam sistem oposisi biner, hanya ada dua tanda, keduanya memiliki makna apabila beroposisi dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. 
Beberapa contoh penanda realitas yang bertentangan dalam film silariang, antara lain : perkotaan-pedesaan;  bangsawan-orang biasa;  cinta sejati-cinta materi; tradisional-modern;   kehadiran-katidakhadiran; kehidupan-kematian, dsb. Komfromi dua realitas yang berlawanan, muncul diakhir cerita dengan memunculkan penanda anomalius, dengan narasi moralitas keagaamaan, akhalakul karimah, kesabaran (ininnawa sabbarakko), permaafan (penyerahan badik, pencucian kaki ibunda),  dsb.
Sementara penandaan mitos dibangun lewat narasi Silariang sendiri. Penandaan mitos menurut Roland Barthes (pemikir semiotika post-strukturalis),mempercayai bahwa relasi antara penanda dan petanda, adalah tidak semata-mata bersifat arbitrer, sebagaimana pemikiran pendahulunya Ferdinand de Saussure.  
Penanda dan petanda memiliki hubungan bersifat historis, yang disebutnya sebagai penanda mitos. Barthes membangun dua bentuk penandaan, yang pertama, adalah penanda denotasi yang mengacu pada makna tataran pertama, dan kedua adalah penanda konotasi yang mengacu pada makna tataran kedua. Makna tataran kedua, bersifat historis,  mengandung mitos, dan memiliki operasi ideologi. 
Makna tataran pertama  “silariang” adalah sebuah bentuk perkawinan yang meninggalkan keluarga atau rumah karena tidak direstui.  Bagi orang yang tak memiliki kaitan historis dengan tradisi silariang, mungkin dia hanya menerima makna tataran pertama tadi.
Pemunculan penanda Silariang, sebenarnya bertugas mengungkap makna tataran kedua, tentang sejarah, nilai budaya Bugis Makassar, seperti  siri na pesse (siri na pacce). Berfungsi mengungkap realitas dibalik silariang, tentang tragedi, pertumpahan darah, resiko kematian sekaligus juga rasa kemanusiaan dan kebijaksanaan. 
Penandaan mitos pada film ini juga berhasil membuka selubung ideologis, dalam konteks relasi kuasa antara  kelas bangsawan dan pemilik modal, yang mungkin sampai hari ini terus mengalami tegangan dan pergeseran di masyarakat Bugis Makassar . (by. Ilham Paulangi)
Baca Juga:  2 Lelaki di Bone "Disikat" Polisi Karena Terlibat Narkoba

Berita Terkait

TP PKK Sulsel Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Edukasi B2SA dan Rumah Pangan
Polres Soppeng Ajak Masyarakat Ramaikan Car Free Day dalam Semarak Hari Bhayangkara ke-80
Wagub Sulsel Apresiasi Buku “BupAAS: Jalan Pengabdian”, Dinilai Jadi Inspirasi bagi Masyarakat
Surat Permohonan RDPU WIB soal Pembahasan CSR Belum Ada Jawaban dari Pimpinan DPRD Bone
Berkeliaran di Paccing, ODGJ Asal Bainang Akhirnya Dipindah, Warga Paccing Pernah Rugi Bahkan Masuk Sel
Gubernur Sulsel Groundbreaking Rehabilitasi Irigasi Bontonyeleng, Optimalkan Pengairan 1.200 Hektare Sawah
Camat Pimpin Kerja Bakti Bersihkan Pesisir Kampung Bajo
Gubernur Sulsel Sambut 392 Jemaah Haji Kloter 21, Sampaikan Pesan Makna Haji Mabrur

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:43 WITA

TP PKK Sulsel Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Edukasi B2SA dan Rumah Pangan

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:34 WITA

Polres Soppeng Ajak Masyarakat Ramaikan Car Free Day dalam Semarak Hari Bhayangkara ke-80

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:53 WITA

Wagub Sulsel Apresiasi Buku “BupAAS: Jalan Pengabdian”, Dinilai Jadi Inspirasi bagi Masyarakat

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:27 WITA

Surat Permohonan RDPU WIB soal Pembahasan CSR Belum Ada Jawaban dari Pimpinan DPRD Bone

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:31 WITA

Berkeliaran di Paccing, ODGJ Asal Bainang Akhirnya Dipindah, Warga Paccing Pernah Rugi Bahkan Masuk Sel

Berita Terbaru