MAKASSAR.BONEKU.COM,– Kasus penyanderaan kembali menghantui pekerja pelayaran Indonesia di jalur internasional. Seorang pelaut asal Kabupaten Gowa, Kapten Ashari Samadikun (33), dilaporkan menjadi korban penyanderaan di perairan Somalia saat menakhodai kapal tanker Honour 25.
Peristiwa ini langsung memicu respons cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Di bawah arahan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, koordinasi lintas kementerian segera dilakukan untuk menangani kasus yang menyita perhatian publik ini.
Ashari diketahui mulai berlayar sejak 21 April 2026 dari Oman, membawa muatan minyak menuju wilayah Somalia—salah satu kawasan perairan paling rawan perompakan di dunia.
Diduga, tidak adanya pengawalan keamanan dalam pelayaran terakhir menjadi celah yang dimanfaatkan kelompok perompak untuk melakukan penyanderaan.
Data sementara menyebutkan, total 18 awak kapal menjadi korban, dengan empat di antaranya warga negara Indonesia, termasuk Ashari, satu-satunya korban asal Sulawesi Selatan.
Meski dalam situasi genting, korban dilaporkan masih dapat berkomunikasi dengan keluarga dan dalam kondisi selamat. Namun, ancaman keselamatan tetap membayangi di tengah proses negosiasi yang berlangsung.
Sebagai bentuk respons cepat, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas, langsung mengunjungi keluarga korban di Gowa. Pemerintah daerah juga memfasilitasi komunikasi langsung antara keluarga dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) serta Kementerian Luar Negeri.
“Kami bergerak cepat atas arahan Bapak Gubernur. Bahkan keluarga korban sudah kami hubungkan langsung dengan Wakil Menteri untuk mendapatkan informasi terkini,” ujar Jayadi.
Langkah ini menegaskan bahwa penanganan kasus tidak hanya dilakukan di level daerah, tetapi juga melalui jalur diplomasi pemerintah pusat yang kini tengah berupaya melakukan mediasi dengan pihak-pihak terkait di perairan internasional.
Gubernur Sulsel menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan dan memastikan keluarga korban tidak berjalan sendiri menghadapi situasi ini.
Di sisi lain, keluarga korban hanya bisa berharap dan berdoa agar proses pembebasan berjalan lancar.
Kasus ini kembali membuka sorotan terhadap risiko tinggi yang dihadapi pelaut Indonesia di jalur pelayaran internasional, khususnya di wilayah rawan konflik dan perompakan seperti Somalia.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu perkembangan resmi, sembari upaya diplomasi terus dilakukan demi keselamatan seluruh awak kapal. (*)
Penulis : Amal
Editor : Admin Redaksi











