JAKARTA.BONEKU.COM,– Rusdi Masse Mappasessu (RMS) tak pernah dikenal sebagai politikus yang gemar berisik. Ia bukan tipe yang membangun panggung dari kontroversi atau melempar pernyataan emosional ke ruang publik. Maka ketika kabar pengunduran dirinya dari Partai NasDem sekaligus dari DPR RI mencuat, langkah itu terasa sunyi tanpa deklarasi, tanpa konferensi pers, bahkan tanpa sepatah kata pun dari yang bersangkutan.
Namun justru dalam kesenyapan itulah daya tarik politik RMS bekerja.
Surat pengunduran diri yang telah diserahkan sejak awal Januari 2026 bukan sekadar urusan administratif. Ia adalah penanda perubahan orientasi politik seorang aktor daerah yang telah lama menjelma figur nasional dengan jejaring kuat di Sulawesi Selatan serta pengalaman panjang di jalur eksekutif dan legislatif.
Konfirmasi Bendahara Umum Partai NasDem, Ahmad Sahroni, akhirnya mengakhiri spekulasi yang selama berminggu-minggu beredar di kalangan elite politik.
“Sudah awal Januari 2026,” ujar Sahroni, Kamis (22/1/2026).
Pernyataan singkat itu memuat pesan penting: keputusan RMS diambil jauh sebelum publik ramai berspekulasi. Ini bukan langkah reaktif, melainkan keputusan yang disusun dengan kalkulasi matang.
Pengunduran diri RMS dari DPR RI bahkan dari posisi strategis sebagai Wakil Ketua Komisi III menjadi sinyal kuat bahwa ia tak sekadar berpindah rumah politik. Ia tengah menata ulang arah karier kekuasaannya. Dalam politik nasional, sangat jarang ada figur yang rela melepaskan “kursi basah” tanpa agenda yang lebih besar di depan mata.
Menariknya, sejak dilantik sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI pada Agustus 2025, RMS tercatat belum pernah memimpin rapat resmi komisi. Fakta ini memberi konteks tersendiri: parlemen tampaknya bukan panggung utama yang ingin ia maksimalkan pada fase politik saat ini.
Sumber internal NasDem Sulawesi Selatan membenarkan bahwa surat pengunduran diri RMS telah sampai ke Ketua Umum Surya Paloh. Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Syaharuddin Alrif, bahkan dipanggil ke Jakarta untuk membahas langkah tersebut. Namun respons elite partai terkesan normatif dan dingin tanpa gejala konflik terbuka.
Hal ini mengindikasikan satu hal: kepergian RMS tidak dibaca sebagai pembangkangan, melainkan sebagai perpisahan politik yang disadari dan diterima oleh kedua belah pihak.
Di tengah situasi itu, isu merapatnya RMS ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kian menguat. Tafsir ini sejalan dengan arah reposisi generasi dan segmentasi kekuatan politik nasional. PSI, dengan branding anak muda dan kepemimpinan Kaesang Pangarep, tengah membangun magnet baru di luar partai-partai mapan.
Kehadiran RMS mendampingi Kaesang di Tana Toraja tanpa atribut, tanpa panggung, tanpa deklarasi justru menjadi simbol politik yang kuat. Dalam politik tingkat tinggi, simbol sering kali berbicara lebih lantang daripada pernyataan resmi.
Ahmad Sahroni menyebut kemungkinan RMS bergabung ke PSI sebagai “dugaan”. Namun dalam bahasa elite politik, kata “dugaan” kerap menjadi satu langkah sebelum kepastian.
Jika skenario itu terkonfirmasi, RMS berpotensi memainkan peran strategis sebagai jembatan antara politik lokal yang matang dan partai nasional yang tengah mencari kedalaman struktur serta pengalaman elektoral. PSI memperoleh figur dengan basis riil, sementara RMS mendapatkan kendaraan politik yang lebih lentur untuk agenda jangka panjang.
Dengan demikian, pengunduran diri RMS dari NasDem dan DPR RI bukanlah sebuah akhir. Ia lebih menyerupai jeda strategis. Dalam politik tingkat tinggi, mundur satu langkah sering kali menjadi cara untuk melompat lebih jauh.
Dan sekali lagi, RMS memilih berbicara bukan lewat kata-kata melainkan melalui langkah. (*)
Penulis : Heri
Editor : Admin Redaksi
Sumber Berita: SUARA.COM











