Harapan yang Dijual Mahal : Kisah Pilu Remaja Bone Korban Calo TNI

- Jurnalis

Minggu, 1 Februari 2026 - 10:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONE.BONEKU.COM,– Mimpi seorang remaja di Kabupaten Bone, Rahmat Danil, untuk mengenakan seragam Tentara Nasional Indonesia (TNI) kini tinggal kenangan pahit. Di balik kegagalan itu, tersimpan kisah pilu tentang uang Rp550 juta yang raib, janji kelulusan yang tak pernah terwujud, serta sebuah keluarga petani yang kini terjerat utang demi harapan yang diperdagangkan.

Danil diduga menjadi korban praktik percaloan penerimaan TNI yang melibatkan oknum anggota TNI aktif berpangkat Sersan Kepala (Serka) bernama Muhammad Nasir, yang diketahui bertugas di Kodim 1408/Makassar. Oknum tersebut menjanjikan kelulusan Danil pada seleksi Secaba TNI tanpa hambatan, dengan syarat menyetor sejumlah uang. Total dana yang diminta dan diserahkan mencapai Rp550 juta.

Saat ditemui wartawan, Danil mengungkapkan bahwa selama proses pengurusan pada tahun 2023, ia telah menyerahkan uang secara bertahap sebanyak empat kali kepada Serka Muhammad Nasir. Namun harapan mengenakan seragam loreng itu pupus. Danil dinyatakan tidak lulus seleksi, sementara uang ratusan juta rupiah yang telah disetorkan tak kunjung dikembalikan.

Baca Juga:  "Super Mario" Asal Bone Sapu Bersih Podium Drag Bike Takalar Cup 2025, Diteguhkan Sebagai Raja Matic Sulawesi

Merasa dirugikan, Danil akhirnya menempuh jalur hukum dengan membuat laporan resmi ke Denpom Makassar pada awal 2024.

“Yang bersangkutan diproses di Pengadilan Militer. Dalam putusan Pengadilan Militer Nomor 67-K/PM III-16/AD/IX/2024, Pak Nasir dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman pidana penjara selama 9 bulan. Saat persidangan, dia menyatakan akan mengembalikan seluruh uang saya. Tapi anehnya, pernyataan itu tidak dicantumkan dalam amar putusan. Saya juga beberapa kali meminta salinan pernyataan tersebut, namun tidak pernah diberikan,” ungkap Danil saat menggelar konferensi pers, Sabtu (31/1/2026).

Akibat peristiwa ini, keluarga Danil kini hidup dalam tekanan ekonomi berat. Uang ratusan juta rupiah yang diserahkan untuk pengurusan seleksi TNI berasal dari pinjaman ke berbagai pihak, bahkan dengan risiko tinggi. Padahal, orang tua Danil hanya berprofesi sebagai petani sederhana.

Baca Juga:  Launching Kebun MBG Terintegrasi, Gubernur Sulsel: SPPG Wajib Serap Pangan Lokal

Setiap hari, keluarga harus memikirkan cara melunasi utang, sementara Danil sendiri mengalami tekanan psikis mendalam, diliputi rasa bersalah karena beban berat yang kini harus ditanggung orang tuanya.

Terpisah, Serka Muhammad Nasir saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon tidak membantah adanya aliran uang tersebut. Namun ia mengklaim bahwa dirinya hanya bertindak sebagai perantara, dan bukan pihak yang mengurus langsung kelulusan Danil.

“Waktu itu Danil datang ke rumah minta tolong dibantu masuk TNI. Saya juga tidak tahu caranya, jadi saya carikan orang bernama Tri Lasmiati. Dialah yang mengurus semuanya. Saya hanya sebatas perantara. Uang memang melalui saya, tapi saya transferkan semuanya ke Tri Lasmiati. Bukti transfernya ada,” ujar Muhammad Nasir.

Lebih lanjut, Nasir mengaku bahwa Tri Lasmiati sempat menyatakan kesediaannya mengembalikan seluruh uang Danil, karena dana tersebut berada padanya. Namun alasan yang disampaikan, Tri Lasmiati masih dalam proses menjual tanah miliknya untuk mengembalikan uang tersebut, yang hingga kini belum terealisasi.

Baca Juga:  Ketua TP PKK Bantaeng Studi Banding Di Desa Mallari Bone

Muhammad Nasir juga mengaku sempat berniat melaporkan kasus ini ke Polrestabes Makassar, namun penyidik menyarankan agar pemilik uang (Danil) turut hadir dalam proses pelaporan.

Kini, keluarga Danil masih terus mengumpulkan bukti dan mempertimbangkan langkah hukum lanjutan, seraya berharap institusi terkait turun tangan secara serius agar hak korban dapat dikembalikan dan tidak ada korban lain yang bernasib serupa.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan praktik percaloan dalam rekrutmen aparat negara, yang kerap menyasar masyarakat kecil dengan memanfaatkan mimpi dan ketidaktahuan.

Secara institusional, TNI berulang kali menegaskan bahwa seluruh proses penerimaan prajurit tidak dipungut biaya dan meminta masyarakat tidak percaya kepada pihak mana pun yang menjanjikan kelulusan. Namun di lapangan, praktik-praktik menyimpang tersebut masih saja terjadi dan meninggalkan luka mendalam bagi para korban. (*)

Penulis : Heri

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

BAZNAS Bone Salurkan 400 Paket Sembako untuk Korban Banjir
Kurang dari 24 Jam, Polsek Tanete Riattang Bekuk 4 Pelaku Curanmor Bersenjata Tajam
Dua Warga Meninggal Akibat Banjir Bone, Gubernur Sulsel Serahkan Tali Asih
Tanam Perdana PM-ASS di Bone, Andi Asman Dorong Transformasi Pertanian Berbasis Teknologi
Pj Sekda Bone Serahkan Santunan Bupati untuk Keluarga Bocah Korban Banjir
Terobos Genangan Air, Bupati Bone Pantau Evakuasi Korban Banjir
Ayah Tengah Evakuasi Warga Banjir, Bocah 5 Tahun di Bone Tenggelam dan Meninggal Dunia
Banjir Rendam Dua Kecamatan di Bone, Dua Warga Dilaporkan Meninggal Dunia

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:41 WITA

BAZNAS Bone Salurkan 400 Paket Sembako untuk Korban Banjir

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:33 WITA

Kurang dari 24 Jam, Polsek Tanete Riattang Bekuk 4 Pelaku Curanmor Bersenjata Tajam

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:15 WITA

Dua Warga Meninggal Akibat Banjir Bone, Gubernur Sulsel Serahkan Tali Asih

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:11 WITA

Tanam Perdana PM-ASS di Bone, Andi Asman Dorong Transformasi Pertanian Berbasis Teknologi

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:11 WITA

Pj Sekda Bone Serahkan Santunan Bupati untuk Keluarga Bocah Korban Banjir

Berita Terbaru