Home / Bone / News

Upah Tak Kunjung Dibayar, Ratusan Buruh Sekolah Rakyat Jalan Kaki 9 Kilometer ke Polres Bone

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONE.BONEKU.COM,– Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat berubah menjadi perjalanan panjang penuh kecemasan bagi ratusan buruh proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bone.

Setelah mediasi antara para buruh, mandor, dan pihak manajemen proyek tak kunjung menemukan titik terang, ratusan pekerja kembali mendatangi Mapolres Bone, Selasa malam, 11 Agustus 2026.

Mereka bahkan rela berjalan kaki sejauh kurang lebih 9 kilometer pada malam hari. Tujuannya hanya satu, mencari kepastian mengenai nasib upah mereka yang hingga kini belum juga dibayarkan.

Dengan wajah lelah dan penuh kekecewaan, para buruh tiba di Mapolres Bone untuk mempertanyakan hasil mediasi yang sebelumnya dilakukan pihak kepolisian bersama mandor dan manajemen proyek.

Salah seorang buruh berinisial DS mengungkapkan, mediasi sebelumnya berlangsung hingga sekitar pukul 03.00 WITA. Namun, setelah proses tersebut, para buruh kembali diminta menunggu tanpa kepastian kapan upah mereka akan dibayarkan.

“Kemarin kan dimediasi oleh Polres sampai jam 3 subuh, sama manajemen dan mandor. Tapi disuruh nunggu lagi dan sampai saat ini tidak ada kejelasan sama sekali. Sementara mandor dan manajemen sekarang pun kami tidak tahu keberadaan mereka di mana,” ungkap DS yang ditemui di Mapolres Bone, Selasa malam, 11/8/2026.

Baca Juga:  Deradikalisasi Humanis ala Polres Bone di Hari Bhayangkara

Kondisi tersebut membuat para buruh semakin terdesak. Mereka mengaku tidak lagi memiliki pilihan selain menempuh jalur hukum agar persoalan pembayaran upah mereka segera mendapat kepastian.

Tak lama setelah tiba di Mapolres Bone, para buruh kemudian membuat laporan polisi. Laporan tersebut diharapkan dapat menjadi jalan untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang dianggap memiliki kewajiban terhadap pembayaran upah ratusan pekerja.

Dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor LP/508/VIII/2026/SPKT/RES Bone tertanggal 12 Agustus 2026, laporan tersebut dibuat dengan mengatasnamakan M. Aman (33) sebagai perwakilan para buruh.

Dalam laporan itu, mereka melaporkan dugaan penggelapan dana upah buruh dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp1,3 miliar.

Baca Juga:  Pria 50 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Rumah Kebun

Jumlah tersebut berkaitan dengan hak upah sekitar 400 buruh yang bekerja dalam proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bone.

Ironisnya, di tengah besarnya nilai proyek, kondisi para pekerja justru semakin memprihatinkan.

Ratusan buruh yang sebagian berasal dari Pulau Jawa itu mengaku kini berada dalam kondisi serba sulit. Salah seorang buruh bahkan menyebut jatah makan mereka di lokasi proyek tersisa dua hari lagi.

Sementara itu, upah yang seharusnya menjadi hak mereka belum diketahui kapan akan dibayarkan. Kondisi semakin pelik bagi para pekerja yang masa kerjanya telah selesai dan sebenarnya sudah berencana kembali ke kampung halaman.

Namun, rencana tersebut terpaksa ditunda. Bukan karena mereka masih ingin bekerja, melainkan karena mereka mengaku tak memiliki uang untuk membeli tiket pulang.

Mereka kini hanya bisa menunggu kepastian sembari bertahan di tengah keterbatasan, keluarga di kampung halaman pun terpaksa harus mengelus dada sembari menunggu kiriman uang dari hasil kerja para buh ini yang belum terbayarkan juga.

Baca Juga:  Libatkan Transaksi Online, Jaringan Sabu di Bone Terbongkar Polisi

Perjalanan kaki sejauh 9 kilometer menuju Mapolres Bone pada Selasa malam menjadi gambaran betapa terdesaknya kondisi para buruh tersebut.

Mereka datang bukan sekadar membawa tuntutan, tetapi juga membawa harapan agar jerih payah selama bekerja segera mendapatkan kepastian.

Mereka berharap laporan yang telah dibuat dapat segera ditindaklanjuti dan memberikan titik terang mengenai siapa yang bertanggung jawab atas pembayaran upah tersebut.

Sebab, bagi ratusan buruh ini, yang mereka tunggu bukan lagi sekadar janji untuk menunggu, melainkan kepastian kapan hasil keringat mereka benar-benar dibayarkan.

Di tengah proyek besar dengan nilai anggara, Rp230 Miliar yang terus menjadi sorotan, ratusan pekerja itu kini justru harus berjuang untuk mendapatkan hak yang mereka klaim belum diterima. (*)

Berita Terkait

Sulsel Tempati Peringkat IV PPD 2026, Pemprov Perkuat Perencanaan Berbasis Data
Polres Bone Borong 5 Penghargaan Kehumasan Polda Sulsel, Bukti Kinerja Makin Solid
Warga Bone Isi Puluhan Tandon Demi Air Bersih, Sumur Mengering Diterjang Kemarau
Menuju Kabupaten Digital, Bupati Bone Dorong Super App Satukan Layanan Publik
Irigasi 2,5 Kilometer Dibangun di Bulukumba, 1.200 Hektare Sawah Ditargetkan Terairi
Kemarau Panjang Melanda, Kodim 1407 Gandeng PDAM Wae Manurungnge Bantu Warga Krisis Air
Antrean BBM di SPBU Camming Bone Mulai Terurai, Tak Lagi Mengular hingga 1 Kilometer
Pinjam Mobil Selama Tiga Hari, Pria di Bone Diduga Tak Kembalikan Terios Milik Majikannya

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:40 WITA

Sulsel Tempati Peringkat IV PPD 2026, Pemprov Perkuat Perencanaan Berbasis Data

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:37 WITA

Polres Bone Borong 5 Penghargaan Kehumasan Polda Sulsel, Bukti Kinerja Makin Solid

Rabu, 30 September 2026 - 23:34 WITA

Warga Bone Isi Puluhan Tandon Demi Air Bersih, Sumur Mengering Diterjang Kemarau

Selasa, 29 September 2026 - 22:01 WITA

Menuju Kabupaten Digital, Bupati Bone Dorong Super App Satukan Layanan Publik

Selasa, 29 September 2026 - 21:56 WITA

Irigasi 2,5 Kilometer Dibangun di Bulukumba, 1.200 Hektare Sawah Ditargetkan Terairi

Berita Terbaru