WAJO.BONEKU.COM,– Wajo hari ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, potensi daerah ini luar biasa besar. Di sisi lain, kita masih berkutat pada persoalan klasik yang itu-itu saja.
Kita punya Danau Tempe yang mendunia. Kita punya hamparan sawah puluhan ribu hektar yang menjadi lumbung pangan Sulawesi Selatan. Kita punya sutra Sengkang yang menjadi ikon budaya. Kita punya rumput laut di pesisir yang potensinya triliunan. Tapi pertanyaannya, sudahkah semua itu menyejahterakan rakyat Wajo secara merata?
Petani Wajo masih menjadi pahlawan yang sering dilupakan. Harga pupuk mahal, harga gabah saat panen anjlok, irigasi masih banyak yang rusak, dan akses teknologi pertanian masih minim. Kehadiran gerakan-gerakan baru seperti Super Tani Indonesia yang digagas Putra Wajo sendiri, Andi Undru Mario (AUM), yang mencoba menggerakkan Gen Z untuk kembali mencintai pertanian dan membangun pasar 80.000 desa, adalah angin segar. Ini yang kita butuhkan. Bukan sekadar bantuan yang habis musim, tapi ekosistem pasar yang berkelanjutan. Wajo butuh terobosan. Bukan lagi sekadar bagi-bagi benih, tapi bangun market.
Di sisi lain, setiap tahun miliaran rupiah uang negara masuk ke Wajo. Seperti proyek penanganan kawasan kumuh Wiringtappareng senilai Rp6,09 Miliar yang baru saja dimenangkan perusahaan dari Makassar. Proyek seperti ini harus kita kawal. Bukan karena kita benci kontraktor luar, tapi karena kita cinta Wajo. Jangan sampai proyek besar hanya megah di papan proyek, tapi hancur dalam tiga bulan. Persimpangan jalan Wajo di sini adalah apakah kita ingin menjadi kabupaten yang pembangunannya berkualitas dan tahan puluhan tahun, atau kabupaten yang proyeknya hanya menjadi formalitas serapan anggaran. Di sinilah peran kontrol sosial seperti LIRA Wajo menjadi penting.
Persimpangan paling nyata ada pada Gen Z Wajo. Ribuan anak muda Wajo memilih merantau ke Makassar, ke Kalimantan, ke Malaysia, karena merasa tidak ada masa depan di kampung sendiri. Padahal di tangan merekalah kunci. Jika pertanian dikemas dengan konten digital, jika Danau Tempe dikemas dengan wisata kreatif, jika sutra Sengkang dijual lewat live TikTok, Wajo bisa meledak. Pertanyaannya, apakah pemerintah memberi ruang itu? Apakah anak muda dilibatkan sebagai subjek, atau hanya objek seremonial?
Wajo tidak kekurangan orang pintar. Wajo tidak kekurangan potensi alam. Yang Wajo butuhkan hari ini adalah keberanian untuk memilih jalan yang tidak biasa. Jalan kolaborasi, jalan transparansi, dan jalan yang berpihak pada rakyat kecil. Di persimpangan ini, kita tidak boleh salah belok. Jika kita memilih jalan lama yang mengutamakan kepentingan kelompok, proyek asal jadi, dan pemuda yang diabaikan, maka 10 tahun ke depan Wajo akan tetap seperti ini. Tapi jika kita berani memilih jalan baru, jalan inovasi pertanian bersama Gen Z, jalan pengawasan ketat pembangunan, dan jalan pemberdayaan ekonomi lokal, maka cita-cita Petani Wajo Maju, Wajo Sejahtera bukan sekadar slogan. Waktunya Wajo menentukan arah.(*)
Oleh : Abrar Mattalioe
Bupati LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Wajo
Editor : Admin Redaksi










