OPINI : Peserta Asal Wajo, Kuda Hitam di Balik Suksesnya UKW Soppeng

- Jurnalis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 01:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONEKU.COM, — Di balik suksesnya pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan di Kabupaten Soppeng, ada sosok yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.

 

Namanya Andi Muhammad Ikbal. Ia bukan ketua panitia, bukan pula bagian dari tim penguji. Ia hanyalah seorang peserta UKW jenjang Muda asal Kabupaten Wajo yang datang untuk mengikuti ujian kompetensi sebagaimana peserta lainnya.

 

Namun, ada sesuatu yang membedakannya. Ketika sebagian orang berfokus mempersiapkan diri menghadapi ujian, Ikbal justru mengambil peran lebih dari sekadar menjadi peserta. Ia memilih membantu pekerjaan yang bahkan bukan menjadi tanggung jawabnya.

 

Ia hadir bukan untuk mencari panggung, apalagi mengharapkan pujian. Ia hanya ingin memastikan bahwa urusan yang membutuhkan bantuan dapat diselesaikan dengan baik.

 

Kontribusinya dalam membantu panitia, terutama pada urusan administrasi peserta, bukanlah perkara sepele. Ia turut memastikan dokumen-dokumen peserta terkirim dan diterima oleh admin PWI Pusat di Dewan Pers melalui surat elektronik atau Gmail di telepon genggamnya.

 

Satu demi satu berkas dikirimkan. Ia memeriksa, memastikan, lalu melanjutkan pekerjaan berikutnya. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada tepuk tangan, dan tidak pula panggung penghormatan yang mengiringi aktivitasnya.

 

Semua berlangsung dalam kesunyian, ketika malam semakin larut dan sebagian orang telah terlelap.

 

Padahal, Ikbal sendiri merupakan peserta yang keesokan harinya harus menjalani ujian kompetensi. Ia memiliki kepentingan yang sama dengan peserta lainnya: mempersiapkan diri, menjaga kondisi tubuh, dan menghadapi penguji dengan kesiapan terbaik.

 

Ia punya alasan yang cukup untuk menolak.

 

Ia bisa saja mengatakan bahwa pekerjaan itu bukan tanggung jawabnya. Ia juga bisa memilih beristirahat karena harus menghadapi ujian pada pagi hari.

 

Namun, Ikbal mengambil keputusan berbeda.

 

Baginya, ketika ada pekerjaan yang membutuhkan bantuan dan ada orang yang sedang menghadapi kesulitan, tidak semua hal harus diukur berdasarkan tugas, jabatan, atau keuntungan pribadi.

 

Ada hati nurani yang terkadang berbicara lebih keras daripada kepentingan diri sendiri.

 

 

Malam itu, ketika pemilik berkas mungkin telah beristirahat, Ikbal masih terjaga. Jarinya terus bekerja memastikan dokumen milik rekan-rekan sesama peserta sampai ke tujuan.

 

Baginya, mengirim berkas mungkin terlihat sebagai pekerjaan sederhana. Namun, ia memahami bahwa dalam sebuah proses administrasi, hal kecil bisa membawa konsekuensi besar.

 

Satu dokumen yang terlambat atau tidak tersampaikan dengan baik berpotensi menjadi penghambat bagi seseorang yang telah menempuh perjalanan panjang demi mengikuti UKW.

Baca Juga:  PSI Wajo Buka Rekrutmen Terbuka Anggota DPRt, Ajak Masyarakat Bergabung

 

Bahkan, di antara pekerjaan yang dilakukannya, Ikbal turut membantu mengatasi persoalan administrasi seorang peserta yang nyaris kehilangan kesempatan mengikuti ujian.

 

Di titik inilah kepeduliannya menemukan makna.

Foto : Andi Muhammad Ikbal.

 

Ia tidak sekadar membantu menyelesaikan urusan teknis, tetapi juga ikut menjaga agar kesempatan seseorang tidak terlepas hanya karena persoalan administrasi yang masih bisa diupayakan penyelesaiannya.

 

Tidak ada transaksi di balik tindakannya. Tidak ada imbalan yang diminta, tidak pula janji yang harus ditagih.

 

Ia bergerak karena merasa bahwa sesama insan pers semestinya saling menguatkan. Sebab, solidaritas tidak seharusnya berhenti pada kata-kata dalam forum atau slogan yang terdengar indah saat kegiatan berlangsung.

 

Solidaritas justru menemukan bentuknya ketika seseorang bersedia hadir dan membantu, terutama saat bantuan itu dibutuhkan.

 

 

Menariknya, keterlibatan Ikbal dalam membantu kegiatan tersebut berawal dari rasa iba.

 

Ia melihat seorang lelaki paruh baya yang harus berjuang sendiri di tengah berbagai kebutuhan penyelenggaraan kegiatan. Pemandangan itu menggerakkan hatinya.

 

Ia tidak memilih menjadi penonton. Ia juga tidak menunggu seseorang memintanya secara khusus untuk turun tangan.

 

Ia mengambil inisiatif, memberikan bantuan sesuai kemampuan yang dimilikinya, lalu menjalankan apa yang bisa dikerjakan.

 

Dari situlah perannya perlahan terlihat, meski tidak selalu diketahui oleh banyak orang.

 

Tidak berlebihan jika Ikbal disebut sebagai kuda hitam di balik kesuksesan UKW Soppeng. Bukan karena ia memegang kendali atas seluruh kegiatan, melainkan karena kontribusinya muncul dari ruang yang mungkin tidak banyak diperhitungkan.

 

Ia bukan tokoh utama dalam struktur kepanitiaan. Namun, dalam situasi tertentu, kehadirannya menjadi bagian penting dari upaya menyelesaikan pekerjaan.

 

Tentu, keberhasilan sebuah kegiatan tidak ditentukan oleh satu orang semata. Ada panitia, penguji, penyelenggara, dan berbagai pihak yang menjalankan tanggung jawab masing-masing.

 

Namun, di antara banyaknya peran tersebut, selalu ada kontribusi kecil yang membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dan persoalan lebih mudah diselesaikan.

 

Ikbal memilih menjadi bagian dari mereka yang bekerja, bukan sekadar mereka yang menyaksikan.

 

 

Mungkin bagi sebagian orang, apa yang dilakukan Ikbal hanyalah pekerjaan kecil: mengirim dokumen, memeriksa berkas, dan membantu urusan administrasi.

 

Namun, sejarah sebuah keberhasilan tidak selalu dibangun oleh pekerjaan besar yang terlihat oleh banyak mata.

 

Sering kali, keberhasilan justru ditopang oleh hal-hal sederhana yang dikerjakan dengan kesungguhan.

Baca Juga:  Kurangi Sampah ke TPA, DLH Wajo Terapkan Biopori dan Pemilahan Botol Plastik di Kantor

 

Ada orang yang berbicara di podium, ada yang memimpin rapat, dan ada pula yang memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya tanpa perlu diketahui banyak orang.

 

Mereka mungkin tidak disebut dalam sambutan. Nama mereka mungkin tidak tercantum dalam laporan kegiatan. Bahkan, kontribusi mereka bisa saja berlalu tanpa apresiasi khusus.

 

Namun, ketidakhadiran pujian tidak serta-merta menghapus nilai sebuah pengabdian.

 

Ikbal menunjukkan bahwa membantu tidak harus menunggu jabatan, dan berbuat baik tidak harus menunggu seseorang memiliki kewenangan.

 

Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kepekaan untuk melihat persoalan, keberanian untuk mengambil inisiatif, dan ketulusan untuk menyelesaikan apa yang bisa dibantu.

 

Di tengah kehidupan yang sering kali membuat orang sibuk menghitung keuntungan pribadi, sikap seperti ini patut mendapat perhatian.

 

Sebab, tidak semua hal harus berujung pada keuntungan materi. Ada kepuasan batin yang muncul ketika seseorang mengetahui bahwa kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain.

 

 

Kini, rangkaian UKW di Kabupaten Soppeng telah usai. Berdasarkan informasi dalam catatan kegiatan ini, seluruh peserta dinyatakan KOMPETEN oleh tim penguji dan berhak menerima sertifikat sesuai jenjang masing-masing.

 

Kabar tersebut tentu menjadi kebahagiaan bagi para peserta yang telah menjalani ujian dan melewati proses penilaian.

 

Namun, di balik kebahagiaan itu, ada pelajaran lain yang layak direnungkan.

 

UKW memang dirancang untuk menguji kompetensi wartawan. Di dalamnya terdapat penilaian terhadap pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan menjalankan profesi jurnalistik sesuai standar yang ditetapkan.

 

Wartawan dituntut mampu mencari dan mengolah informasi, melakukan verifikasi, menyusun berita secara akurat, memahami kode etik, serta mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalistiknya.

 

Akan tetapi, kehidupan profesional tidak hanya berlangsung di ruang ujian.

 

Karakter seseorang juga tercermin dari bagaimana ia bersikap ketika berhadapan dengan persoalan nyata. Kepedulian, kejujuran, tanggung jawab, dan kemauan membantu sesama merupakan nilai yang tidak kalah penting dalam membangun kehidupan pers yang sehat.

 

Dalam konteks itulah, tindakan Ikbal menghadirkan makna yang lebih luas.

 

Ia mungkin sedang diuji untuk menjadi wartawan yang kompeten. Namun, pada saat bersamaan, ia juga memperlihatkan bahwa profesionalisme tidak semata-mata diukur dari kemampuan teknis atau selembar sertifikat.

 

Profesionalisme juga menyangkut sikap terhadap sesama manusia.

 

Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan yang luas, keterampilan yang mumpuni, dan pengalaman panjang. Namun, semua itu akan terasa kurang bermakna apabila tidak diiringi kepekaan terhadap kesulitan orang lain.

Baca Juga:  Diduga Jadi Tempat Penampungan Solar Subsidi, Lokasi di Takkalalla Wajo Disorot

 

Sebaliknya, tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dapat memberikan dampak yang berarti bagi lingkungan sekitarnya.

 

 

Andi Muhammad Ikbal mungkin bukan sosok yang paling banyak disebut selama pelaksanaan UKW Soppeng. Ia juga bukan orang yang berdiri di depan untuk menerima penghormatan atas keberhasilan kegiatan tersebut.

 

Namun, ia meninggalkan sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dengan laporan administrasi.

 

Ia meninggalkan teladan tentang bagaimana kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.

 

Ketika orang lain membutuhkan bantuan, ia tidak sibuk bertanya apakah pekerjaan itu merupakan tanggung jawabnya. Ketika ada persoalan yang masih bisa diupayakan penyelesaiannya, ia tidak langsung memilih menjauh.

 

Ia membantu karena merasa mampu. Ia bertindak karena melihat ada yang perlu dikerjakan.

 

Dan yang paling penting, ia melakukannya tanpa menjadikan kebaikan sebagai alat untuk mencari pengakuan.

 

Mungkin inilah pesan yang sesungguhnya perlu dibawa pulang dari UKW Soppeng: bahwa menjadi wartawan yang baik bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan berita, melainkan juga tentang bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sebab, pers tidak hidup di ruang hampa. Wartawan bekerja di tengah masyarakat, berhadapan dengan persoalan manusia, dan membawa tanggung jawab moral yang tidak berhenti ketika kamera dimatikan atau berita selesai diterbitkan.

 

Ketika sebagian orang memilih memejamkan mata, ada seseorang yang tetap terjaga demi memastikan orang lain tidak kehilangan kesempatan. 

 

Sosok itu adalah Andi Muhammad Ikbal, peserta UKW jenjang Muda asal Kabupaten Wajo.

 

Ia mungkin bukan pahlawan dalam pengertian yang besar. Namun, melalui tindakan sederhana, ia mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung, dan pengabdian tidak selalu membutuhkan jabatan.

 

Pada akhirnya, sertifikat kompetensi adalah pengakuan atas kemampuan profesional. Namun, kepedulian adalah cerminan dari nilai-nilai yang hidup dalam diri seseorang.

 

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru, ketika kompetensi berjalan beriringan dengan kepedulian, di situlah profesi wartawan menemukan maknanya yang lebih utuh.

 

Menjadi wartawan kompeten bukan hanya tentang seberapa baik seseorang menjalankan profesinya, tetapi juga tentang seberapa besar ia masih menyediakan ruang di hatinya untuk peduli kepada sesama. 

 

Sebab, kebaikan tidak harus menunggu seseorang meminta pertolongan. Terkadang, ia cukup dimulai dari keberanian untuk melihat, kepekaan untuk memahami, dan ketulusan untuk bertindak.

 

Oleh : Darmawan Saputra

Editor : Admin Redaksi

Berita Terkait

Prabowo Kumpulkan Kepala Daerah di Rakornas TPAKD 2026, Ini Fokus Pembahasannya
OPINI : Kabut Asap Sulawesi Selatan: Warga Perlu Dilindungi, Sumber Pencemaran Harus Ditelusuri
Kejari Wajo Musnahkan Barang Rampasan dari 37 Perkara, 1,24 Kilogram Sabu Ikut Dihancurkan
Opini : Kabupaten Wajo Di Persimpangan Jalan
Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah? LIRA Soroti Penindakan yang Dinilai Hanya Menyasar Pedagang Kecil
Karang Taruna Wajo Apresiasi Dukungan Andi Iwan Darmawan Aras untuk FDT 2026
HIPSI Wajo Dukung KPK Hentikan Praktik “Ketua Kelas” Proyek
Bisnis Rokok Ilegal Subur di Wajo, SMSI Desak Razia Gabungan

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 01:21 WITA

OPINI : Peserta Asal Wajo, Kuda Hitam di Balik Suksesnya UKW Soppeng

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:00 WITA

Prabowo Kumpulkan Kepala Daerah di Rakornas TPAKD 2026, Ini Fokus Pembahasannya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:58 WITA

OPINI : Kabut Asap Sulawesi Selatan: Warga Perlu Dilindungi, Sumber Pencemaran Harus Ditelusuri

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:42 WITA

Kejari Wajo Musnahkan Barang Rampasan dari 37 Perkara, 1,24 Kilogram Sabu Ikut Dihancurkan

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:06 WITA

Opini : Kabupaten Wajo Di Persimpangan Jalan

Berita Terbaru