BULUKUMBA.BONEKU.COM– Upaya rehabilitasi ekosistem pesisir terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Sebanyak 15.000 bibit mangrove ditanam di Desa Lembang Lohe, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Minggu (14/6/2026).
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari dengan WWF Indonesia yang melibatkan Pemerintah Desa Lembang Lohe, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Bulukumba, Penyuluh Perikanan, kelompok masyarakat, ITBM Balik Diwa, serta mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan (HMP MSP) Universitas Hasanuddin, Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (HMP PSP) Universitas Hasanuddin, dan HIMARIN FIKP Unhas.
Penanaman dilakukan pada lima titik tambak masyarakat yang telah tidak produktif selama lebih dari satu dekade. Program ini bertujuan mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir, memperkuat perlindungan kawasan pantai, serta membuka peluang pemulihan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan.
Selain penanaman mangrove, kegiatan juga dirangkaikan dengan forum Tudang Sipulung yang dipimpin langsung Kepala Desa Lembang Lohe, Edi Haryono. Forum tersebut menjadi ruang dialog antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan organisasi pendamping untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi sektor perikanan tambak di wilayah tersebut.
Dalam diskusi terungkap bahwa Desa Lembang Lohe memiliki sekitar 80 hektare kawasan tambak. Namun, kurang dari 20 hektare yang masih produktif dan saat ini hanya dikelola oleh sekitar 11 orang petambak.
Menurunnya produktivitas tambak dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kerusakan pematang akibat banjir, pendangkalan sungai, hingga perubahan kondisi lingkungan yang terjadi di sekitar daerah aliran sungai.
Permasalahan banjir menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan warga Desa Lembang Lohe, tetapi juga sejumlah desa lain di Kecamatan Kajang. Padahal, sektor tambak sebelumnya menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat sekaligus penopang perekonomian desa.
Kepala Desa Lembang Lohe, Edi Haryono, mengatakan pemerintah desa terus berupaya mencari solusi untuk menghidupkan kembali sektor perikanan tambak yang selama ini mengalami penurunan produktivitas.
“Dulu sektor perikanan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Saat ini kami terus berupaya mendorong kebangkitan sektor tersebut melalui berbagai program, termasuk bantuan bibit udang dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Penanaman mangrove ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi dampak banjir dan memperbaiki kondisi lingkungan pesisir secara bertahap,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan tersebut diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan antara Pemerintah Desa Lembang Lohe, perwakilan masyarakat, mahasiswa, Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari, dan WWF Indonesia.
Kesepakatan tersebut menjadi landasan tindak lanjut dalam rehabilitasi mangrove, pemulihan kawasan tambak, serta penguatan kolaborasi multipihak untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan.
Ketua Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh komitmen seluruh pihak dalam menjaga dan merawat kawasan yang telah direhabilitasi.
“Penanaman hanyalah langkah awal. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga dan merawat mangrove agar tumbuh dengan baik serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Melalui kegiatan ini, seluruh pihak berharap rehabilitasi mangrove tidak hanya memberikan manfaat ekologis berupa perlindungan pesisir, pengurangan risiko banjir, dan peningkatan kualitas lingkungan, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan kawasan pesisir yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari sendiri merupakan organisasi yang berfokus pada pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat, konservasi ekosistem, serta pembangunan kemitraan multipihak untuk mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir. (*)










