Bayi Meninggal dalam Kandungan di Bone, Dokter RSUD Tenriawaru Bantah Ada Keterlambatan

- Jurnalis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BONE.BONEKU.COM, – Kasus meninggalnya bayi laki-laki dalam kandungan di RSUD Tenriawaru, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menuai pertanyaan dari pihak keluarga terkait proses penanganan medis yang dilakukan sebelum bayi dinyatakan meninggal saat dilahirkan.

Menanggapi keluhan tersebut, dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang menangani pasien, dr. Andi Koneng Pratiwi, Sp.OG, menegaskan bahwa seluruh tindakan medis telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Dalam konferensi pers di RSUD Tenriawaru, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Jumat (16/10/2026), dr. Andi Koneng memaparkan kronologi penanganan pasien hingga tindakan operasi darurat dilakukan.

Menurutnya, kondisi darurat terjadi ketika tali pusat bayi keluar melalui jalan lahir atau mengalami prolaps tali pusat. Kondisi tersebut dapat menghambat aliran darah dan suplai oksigen kepada janin sehingga membutuhkan penanganan segera.

Dr. Andi Koneng menjelaskan, pasien sebelumnya mengeluhkan nyeri pada bagian bawah perut ketika menjalani perawatan di ruang Kenanga, lantai tiga, pada Rabu sore.

Pasien kemudian diarahkan ke ruang perawatan kandungan Dahlia untuk menjalani observasi guna memantau perkembangan kondisi kehamilan dan kemungkinan munculnya tanda-tanda persalinan.

Di ruang tersebut, tim medis memberikan obat tokolitik yang berfungsi mengurangi kontraksi rahim. Setelah pemberian obat, keluhan nyeri pasien disebut berangsur-angsur berkurang.

Baca Juga:  Pesta Rakyat Beramal di Kajuara, Warga Padati Mobil Layanan KTP-El

Pemantauan kondisi janin juga dilakukan menggunakan kardiotokografi (KTG), yakni pemeriksaan untuk memantau denyut jantung janin dan aktivitas kontraksi rahim.

“Dari hasil KTG tersebut tidak ada sama sekali kontraksi maupun his,” kata dr. Andi Koneng.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, pasien tetap menjalani observasi hingga Kamis pagi.

Pada Kamis pagi, dokter kembali menerima laporan bahwa pasien mengalami nyeri perut. Dr. Andi Koneng mengaku berencana melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mengevaluasi kondisi dan posisi janin.

Namun, sebelum pemeriksaan tersebut dilakukan, ketuban pasien pecah sekitar pukul 09.00 Wita.

Menurut penjelasan dokter, pemeriksaan dalam pertama setelah ketuban pecah belum menemukan tali pusat di jalan lahir.

Situasi kemudian berubah sekitar lima menit berselang. Tali pusat bayi keluar melalui jalan lahir, menandakan terjadinya prolaps tali pusat.

Prolaps tali pusat merupakan kondisi ketika tali pusat turun melewati bagian terendah janin atau mendahului janin menuju jalan lahir. Kondisi ini berisiko menimbulkan tekanan pada tali pusat sehingga aliran darah dan oksigen menuju bayi terganggu.

Menghadapi kondisi tersebut, dr. Andi Koneng mengatakan tim medis segera melakukan tindakan untuk mengurangi tekanan pada tali pusat sembari mempersiapkan operasi darurat.

Baca Juga:  Pemilu Damai, Begini Harapan Irwandi dan Rismono

Tindakan dilakukan dengan memasukkan tangan melalui vagina untuk mempertahankan posisi kepala bayi agar tidak menekan tali pusat yang telah keluar.

“Begitu tali pusat keluar, dipersiapkan operasi, dilaporkan ke kamar operasi, langsung dibawa,” ujarnya.

Menurutnya, upaya mempertahankan posisi kepala bayi tetap dilakukan selama proses pemindahan pasien menuju kamar operasi.

Operasi dimulai sekitar pukul 10.05 Wita dan selesai sekitar pukul 10.30 Wita. Namun, bayi laki-laki tersebut tidak berhasil diselamatkan dan dinyatakan meninggal saat dilahirkan.

Dr. Andi Koneng menjelaskan, kematian bayi diduga berkaitan dengan terganggunya suplai oksigen akibat prolaps tali pusat.

“Penyebab kematian bayi karena prolaps tali pusat, karena kekurangan suplai oksigen ke bayi,” jelasnya.

Dalam keterangannya, dr. Andi Koneng juga menyebut denyut jantung bayi masih dalam kondisi baik pada malam sebelum kejadian. Menurutnya, penurunan denyut jantung terjadi setelah tali pusat keluar.

Ia menambahkan, pemeriksaan USG yang dilakukan sekitar dua hari sebelum kejadian tidak menunjukkan adanya prolaps tali pusat maupun masalah lain seperti lilitan tali pusat.

Pada pemeriksaan tersebut

berat janin diperkirakan sekitar 1,7 kilogram dengan usia kehamilan kurang lebih 32 minggu.

Dokter menyebut belum ditemukannya tanda-tanda persalinan dalam pemeriksaan sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan untuk melanjutkan observasi terhadap pasien.

Baca Juga:  Festival Merdeka WIB, Lomba Nyanyi Solo Antar-OPD Bone Perebutkan Piala Bupati

Persoalan utama yang mencuat dalam kasus ini adalah pertanyaan keluarga mengenai proses penanganan medis sebelum bayi dinyatakan meninggal dalam kandungan.

Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan keterlambatan penanganan dan kesesuaian tindakan medis dengan SOP, dr. Andi Koneng menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan prosedur sesuai ketentuan.

Pernyataan tersebut merupakan penjelasan dari dokter yang menangani pasien. Sementara itu, untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai kejadian ini, kronologi dari pihak keluarga serta hasil evaluasi medis yang independen juga penting untuk diketahui.

Konferensi pers tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tenaga medis RSUD Tenriawaru, yakni dr. H. Muskamal Tabbate, Sp.OG (K); dr. A. Adriana AT, MARS, selaku Plt. Kepala Bidang Pelayanan Medik; dr. A. Nurfajriani, M.Kes., Sp.KJ, selaku Wakil Direktur Pelayanan Medik; dr. Arung Sombolinggi, Sp.OG; serta Dan Junaedi dari bagian Humas RSUD Tenriawaru Bone.

Hingga keterangan tersebut disampaikan, penjelasan pihak rumah sakit menjadi dasar klarifikasi atas dugaan keterlambatan penanganan yang dipertanyakan keluarga. Penilaian menyeluruh mengenai rangkaian pelayanan medis memerlukan pemeriksaan terhadap rekam medis, kronologi lengkap, dan keterangan seluruh pihak terkait. (*)

Berita Terkait

Perempuan Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Libureng Bone
Petani Cinennung Tak Perlu Lagi Bertaruh Melintasi Sungai, Kodim Bone Bangun Jembatan Beton
Nenek Gendong Jenazah Cucu Sambil Menangis, Penanganan Medis RSUD Tenriawaru Dipertanyakan
Harumkan Nama MAN 3 Bone, Amelia Raih Juara III di BerAmal Fest 2026
MTsN 3 Bone Mulai Langkah Nyata Menuju Madrasah Hijau, Gandeng DLH Sulsel dan Bone
Diburu hingga ke Pinrang, Terduga Spesialis Pencuri Rumah Kosong di Bone Ditangkap, Kerugian Korban Rp369 Juta
Malam-Malam Polisi Gerebek Lokasi Sabung Ayam di Bone, Sejumlah Arena Dimusnahkan
Terpisah Ribuan Kilometer Tak Jadi Penghalang, Pria Bone dan Perempuan Swedia Berakhir di Pelaminan.

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:39 WITA

Bayi Meninggal dalam Kandungan di Bone, Dokter RSUD Tenriawaru Bantah Ada Keterlambatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:58 WITA

Perempuan Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Libureng Bone

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:52 WITA

Petani Cinennung Tak Perlu Lagi Bertaruh Melintasi Sungai, Kodim Bone Bangun Jembatan Beton

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:48 WITA

Nenek Gendong Jenazah Cucu Sambil Menangis, Penanganan Medis RSUD Tenriawaru Dipertanyakan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:52 WITA

Harumkan Nama MAN 3 Bone, Amelia Raih Juara III di BerAmal Fest 2026

Berita Terbaru