Bergembira Tanpa Mudik

- Jurnalis

Selasa, 11 Mei 2021 - 01:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

  Catatan Pinggir : Bahtiar Parenrengi 
WATAMPONE-Mudik menjadi pembicaraan tren diakhir Bulan Ramadhan. Pembicaraan yang cukup mendominasi dalam dunia Maya hingga didunia nyata.
Mudik menjadi penyebab bahan umpatan, baik di media sosial maupun dalam dunia nyata. Bahkan nampak terlihat banyak pemudik mengatur jadwal lebih awal agar bisa lebih bebas diperjalanan.
Mudik memang selalu menjadi perhatian pemerintah sejak dulu. Telah menjadi tugas yang lebih menyita perhatian dibanding dengan mengawali ramadhan. Mudik telah menjadi tradisi diakhir ramadhan, agar bisa berlebaran di kampung halaman.
               ***
Saya tak memiliki cerita atau pengalaman yang banyak soal mudik. Dulu, disaat kuliah memang lebih memilih lebaran di Makassar dibanding harus balik ke Bone.
Namun demikian, cerita mudik tetaplah ada. Mulai naik motor bareng dengan teman sekampung, hingga mudik menggunakan mobil truk pengangkut barang.
Masing-masing memiliki sensasi yang berbeda. Tentu tak seramai dengan sekarang. Karena saat itu, kendaraan tidak seramai dengan sekarang ini. Begitupun dengan aturan mudik, tak ada aturan yang melarang.
Dulu, masih merasakan keterbatan mobil penumpang umum. Masih dihitung jari, sehingga harus berebut tempat duduk saat akan mudik. Berdesak-desakan bukanlah halangan. Berdesak-desakan bukanlah masalah.
Hingga suatu ketika, saya harus memilih naik mobil truk pengangkut barang. Ada nuansa lain. Memiliki keasyikan tersendiri karena sopir mobil truk terkadang harus singgah beberapa kali untuk ngopi. Bahkan nginap disalah satu warung.
Tentu beda dengan mobil bus atau mobil funter (istilah trennya). Waktu Tempuh bisa lebih singkat, empat hingga lima jam. Tergantung sopirnya, kalau tak ngantuk habis mencicipi sajian di warung langganannya.
Menunya cukup beragam. Mulai ikan, telur, ayam hingga sup. Hingga suatu hari, seorang penumpang nyeletuk bahwa jadi sopir mobil penumpang itu enak. Bisa menikmati makanan yang enak dibanding dengan pemilik mobil yang terkadang pusing tujuh keliling memikirkan setoran.
                ***
Mari bergembira. Seolah itulah harapan dari Bulan Ramadhan. Bergembira bukan berarti berpestapora hingga batas khilaf.
Bergembira karena kita telah melewati cobaan saum yang begitu beragam. Bergembira karena kita telah meniti hidup menjadi manusia bertaqwa. 
Bergembira karena berbagai cobaan makanan dan minuman disiang hari tak merusak iman kita untuk merasakannya. Dan bergembira karena mampu merasakan dimensi keIlahian dalam keseharian kita.
Bergembiralah, karena tak lama lagi restoran, rumah makan dan warkop pada buka disiang hari. Kita tak segan lagi untuk masuk restoran, rumah makan dan warkop di siang hari. Kita tak perlu lagi diam-diam masuk dipintu belakang atau samping, untuk menikmati sesuatu saat warga lainnya menunaikan puasa ramadhan.
Bergembiralah, walau lebaran kali ini tak mudik. Kita diharapkan menahan diri dan turut andil dalam pencegahan penyebaran Covid 19. Protes di dunia nyata dan Maya gencar kita baca. Yakinlah bahwa semua ini ada hikmahnya. 
Dan kita juga berharap agar hati dan pikiran kita juga dimudik-kan. Kembali ke fitrah. Kembali kepada pengakuan syahadat. Bukankah esensi dari puasa menuntun kita menjadi manusia suci? Manusia yang bertaqwa.
Olehnya itu, tentu tak ada salahnya tetap bergembira walau kita tidak mudik. Selamat berlebaran, Taqobbalallahu minna wa minkum, “Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian” dan mohon maaf lahir dan bathin.(*)
Baca Juga:  Pengamat Politik Nilai Yasir Mahmud Paling Siap di Pilkada Bone

Berita Terkait

Membanggakan! Dandim Bone Terima Piagam Kasad, Jurnalis TV One Juara Satu Media Elektronik
Cekcok Berujung Mengerikan, Istri di Bone Diduga Disiram Bensin Lalu Dibakar Suami
Polwan Satlantas Polres Bone Bagikan Air Mineral kepada Warga yang Antre BBM di SPBU
Kepengurusan DPP APKLI Merah Putih 2026-2031 Rampung, Sejumlah Nama Strategis Masuk Struktur
Modus Penyalahgunaan Bergeser, ‘Pa’sedot’ Jadi Tantangan Baru Pengawasan Satgas
Musda PPI Soppeng, Wabup Selle : Organisasi Ini Memiliki Sistem Kaderisasi yang Jelas
Mobil Dinas Diduga Serobot Antrean BBM, Satgas: Isi Pertamax Jadi Tidak Perlu Antre
Pemkab Soppeng dan Wahdah Islamiyah Gelar Sholat Istisqa, Memohon Hujan dan Keberkahan untuk Negeri

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 17:29 WITA

Membanggakan! Dandim Bone Terima Piagam Kasad, Jurnalis TV One Juara Satu Media Elektronik

Senin, 14 September 2026 - 17:41 WITA

Cekcok Berujung Mengerikan, Istri di Bone Diduga Disiram Bensin Lalu Dibakar Suami

Senin, 14 September 2026 - 14:12 WITA

Polwan Satlantas Polres Bone Bagikan Air Mineral kepada Warga yang Antre BBM di SPBU

Minggu, 13 September 2026 - 20:31 WITA

Kepengurusan DPP APKLI Merah Putih 2026-2031 Rampung, Sejumlah Nama Strategis Masuk Struktur

Sabtu, 12 September 2026 - 13:19 WITA

Modus Penyalahgunaan Bergeser, ‘Pa’sedot’ Jadi Tantangan Baru Pengawasan Satgas

Berita Terbaru