BONE.BONEKU.COM.– Teror terhadap kebebasan berekspresi kembali mencuat di Kabupaten Bone. Seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bone, Andi Mahardika Sunandar, menjadi korban intimidasi brutal hingga pengeroyokan oleh sekelompok Orang Tak Dikenal (OTK), Jumat, 8 Januari 2025.
Peristiwa mencekam itu terjadi di pelataran Kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, saat Andi Dika sapaan akrab korban baru saja tiba di lokasi menggunakan sepeda motor. Tanpa peringatan, empat pria bertopeng masker turun dari sebuah mobil dan langsung melancarkan serangan.
Ditemui di RSUD Tenriawaru Bone, Andi Dika dengan wajah lebam dan bibir pecah menceritakan detik-detik dirinya menjadi sasaran kekerasan.
“Saya baru tiba, tiba-tiba mereka menghampiri lalu memukul. Saya dipiting dari belakang, diseret dan dipaksa naik ke mobil. Salah satu dari mereka bilang, ‘ikutko’. Saya melawan dan berteriak minta tolong,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Teriakan korban memecah keheningan lokasi. Warga sekitar yang mendengar jeritan tersebut segera berdatangan. Menyadari aksinya diketahui publik, para pelaku panik, bergegas kembali ke mobil dan kabur meninggalkan korban.
“Mereka empat orang, semuanya pakai masker, jadi sulit dikenali. Saya dipukul berkali-kali di wajah dan sempat diseret ke mobil, tapi saya melawan sampai berhasil lepas,” tambah Andi Dika.
Akibat pengeroyokan itu, korban mengalami luka pecah di bibir, lebam di wajah, serta luka di telapak kaki akibat diseret paksa. Kasus tersebut langsung dilaporkan ke SPKT Polres Bone, sebelum korban dilarikan ke RSUD Bone untuk mendapatkan perawatan medis.
Yang mengejutkan, Andi Dika mengaku tidak memiliki konflik pribadi dengan siapa pun. Serangan mendadak tersebut membuatnya terpukul dan mempertanyakan motif di balik aksi kekerasan itu.
“Saya dan teman-teman aktivis sedang menyoroti pembangunan Bola Soba yang sampai sekarang tidak jelas. Rencananya kami mau buat posko dan mengkaji persoalannya. Tapi saya baru survei lokasi, tiba-tiba diserang,” kuncinya.
Insiden ini memunculkan dugaan adanya upaya pembungkaman terhadap aktivitas kritis mahasiswa. Andi Dika pun berharap aparat kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini, mengungkap identitas para pelaku, serta menjamin keamanan aktivis dan ruang demokrasi di Kabupaten Bone. (*)











