BONE.BONEKU.COM, — Nasib nelayan bagang di Desa Angkue, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, tengah menghadapi masa sulit. Hasil tangkapan ikan yang menurun akibat cuaca buruk membuat pendapatan mereka merosot tajam dibandingkan saat musim ikan melimpah.
Memasuki November 2026, kondisi laut yang kurang bersahabat menjadi salah satu kendala utama bagi nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan maksimal. Angin kencang, arus laut yang kuat, hingga gelombang besar membuat aktivitas melaut tidak berjalan optimal.
Salah seorang nelayan bagang di Desa Angkue Saptu, mengungkapkan, penurunan hasil tangkapan tersebut hampir terjadi setiap tahun, terutama ketika memasuki November.
“Untuk tangkapan ikan sekarang sudah agak berkurang, tidak sama seperti tahun-tahun kemarin. Mungkin karena belum musimnya, angin, arus juga kencang, dan gelombang besar,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan. Jika saat musim ikan sedang bagus mereka bisa meraup ratusan juta rupiah dalam sebulan, kini pendapatan yang diperoleh hanya berkisar Rp28 juta.
Angka tersebut jauh dari penghasilan saat musim ikan melimpah yang bisa mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta per bulan.
“Kalau musimnya, kadang kita dapat Rp400 juta sampai Rp500 juta dalam satu bulan,” ungkapnya.
Nelayan yang telah menggeluti pekerjaan tersebut selama delapan tahun itu mengatakan, jenis ikan yang biasa diperoleh dari hasil tangkapan bagang cukup beragam. Mulai dari ikan katombong, lure, lajang, hingga cumi-cumi.
Di antara berbagai jenis tangkapan tersebut, ikan katombong menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai jual tinggi. Harga satu gabus ikan katombong bahkan bisa mencapai Rp1,7 juta.
Menurutnya, harga ikan di pasaran sangat dipengaruhi oleh ketersediaan hasil tangkapan. Ketika ikan melimpah, harga cenderung turun. Sebaliknya, saat pasokan berkurang, harga jual justru bisa meningkat.
“Kalau ikan banyak, harganya turun. Tapi kalau sudah berkurang, terutama saat terang bulan, harganya bisa melonjak lagi,” jelasnya.
Di balik potensi penghasilan yang menjanjikan, pekerjaan sebagai nelayan menyimpan risiko besar. Kerusakan mesin hingga perahu bocor menjadi persoalan yang kerap dihadapi saat berada di laut.
Ia mengaku, kebahagiaan terbesar seorang nelayan adalah ketika mendapatkan tangkapan ikan dalam jumlah besar karena hasil penjualannya dapat meningkatkan pendapatan keluarga.
Namun, kondisi bisa berbalik ketika peralatan mengalami kerusakan di tengah aktivitas melaut.
“Kalau sukanya, saat mendapatkan ikan besar dan banyak, hasil jual meningkat dan kita bisa mendapatkan banyak uang. Tapi kalau mesin macet atau perahu bocor, itu dukanya. Perjuangan kita di laut sangat luar biasa,” tandasnya.
Para nelayan berharap kondisi perairan kembali membaik sehingga hasil tangkapan meningkat. Mereka memperkirakan peluang tersebut mulai terbuka pada Desember, ketika musim ikan kembali datang.
Bagi nelayan di Desa Angkue, perubahan musim bukan sekadar pergantian cuaca. Kondisi laut sangat menentukan hasil tangkapan sekaligus keberlangsungan pendapatan mereka. (*)










